Selasa, 08 November 2016

7 Tahun Kemudian - Salam Pertemuan Setelah Lama Tak Berjumpa

Terakhir melihat postingan tertanggal 29 Oktober 2009. Ahh.. sudah lama sekali tidak tersentuh blog manja ini. 7 tahun sudah, Blog tercinta ini kutelantarkan. Hmm, 7 tahun bisa dibilang waktu yang sangat singkat bila dilalui dengan mengenang masa indah, namun menjadi sangat berat ketika kita menggali masa-masa berat yang telah dilalui. Pendewasaan diri sudah pasti terjadi dalam proses 7 tahun ini. Yang jelas, Selamat Datang Kembali di Blog ini, selamat berjumpa kembali para teman-teman bloggersku yang tercinta.
Oh iya, lupa satu hal, mohon maaf untuk sementara waktu, tampilan Blog ini akan menjadi sangat sederhana, dikarenakan pengerjaan template masih tertunda karena hal-hal lain. Oleh karena itu, maafkan diri saya kalau template saya benar-benar menguras energi dan tidak sedap dipandang mata.




Minggu, 25 Oktober 2009

"Kisahku dengan Bintang"

Malam itu bulan telah menampakkan wajahnya. Kulihat ribuan bintang bertahta diatas kertas hitam yang seolah tergantung tanpa tiang dan penyangga. Berdiri aku diatas batu yang ada ditengah bukit hijau di belakang rumahku. Kemudian kurentangkan tanganku dan aku berkata dan bertanya kepada satu bintang di langit.
"Wahai bintang, Apakah sebenarnya persahabatan itu?"
Bintang itu membuat sedikit gerakan. Seolah hidup, bintang itu berputar dan bergeser sedikit dari tempatnya berada. Kibasan ekornya yang berwarna jingga sungguh indah.

Tak lama kemudian bintang-bintang lain ikut bergerak, dan mulai berkumpul menjadi satu. Merah, Kuning, Hijau, Putih, Biru, gemerlap cahaya bintang memenuhi langit. Ekor panjang mereka seolah sengaja mereka kibaskan dengan penuh gejolak warna. Seperti kuas yang menyapu kanvas. Seolah lukisan yang tak ternilai. Sungguh indah, mereka berkumpul menjadi ribuan titik warna yang seolah sedang mengadakan suatu rapat besar.

Rabu, 23 September 2009

Beberapa Cerita - Hanya di Indonesia (Bagian II)

Cerita kedua datang dari pertigaan tol porong. Di depan jalan masuk tol porong persis. Waktu itu aku sedang menuju ke Surabaya bersama temanku naik sepeda motor. Karena kupikir aku dibonceng, jadi aku cuma memakai helm non-standar, alias orang Malang bilang helm Cibuk (Gayung). Karena di Malang Helm non-standar seperti ini masih diperbolehkan bagi orang yang dibonceng. Tapi aku tak tahu kalau di Sidoarjo dan Surabaya, helm seperti ini tak diperbolehkan.

Dan akhirnya, tepat di depan jalan masuk tol porong, aku dihentikan oleh seorang anggota polisi. Katanya, "Mas, kena tilang, karena helm-nya bukan helm standar. Mana STN dan SIM." Kemudian temanku memberikan SIM dan STN miliknya. Polisi itupun berkata "Okay, ikut saya ke dalam." Saya masuk kedalam sebuah tenda yang gak terlalu besar berwarna biru tua. Didalam sana saya langsung ditanya "Mas, kena tiga puluh lima ribu." terus polisi satunya bertanya "Disini atau pengadilan." Temanku menjawab, "Disini saja pak." Karena Temanku pikir, kalau motor ini disita, gimana kami bisa nyampe ke Kantor di Surabaya. Sedangkan waktu itu sudah jam 8, padahal kami sudah harus berada di kantor pukul 9. Kan gak mungkin kalau kami harus nunggu surat tilang dulu.

Beberapa Cerita - Hanya di Indonesia (Bagian I)

Wah cerita pertama datang 2 bulan lalu, saat aku diajak oleh temanku ke sebuah tempat di Surabaya. Sebenere aku yakin udah banyak orang tahu tempat ini. Yah gimana gak tahu, Tempat hiburan malam terbesar Asia Tenggara. Hahaha... Aneh, Indonesia sebagai negara dengan Penduduk muslim terbesar di dunia memiliki tempat hiburan malam terbesar. Waduh lucu yah..... Hahahaha..... "DOLLY", Dengar nama itu sih kayaknya biasa, padahal, bagi orang Surabaya, nama itu menjadi nama pujaan bagi yang senang pergi ke sana. Kalo dibilang resmi sih, emang kayaknya resmi, soalnya tak liat ada polisi, hansip, bahkan tentara. Aneh ya... Itukah yang seharusnya diamankan.

Padahal sudah menjadi rahasia umum, kalo tempat itu bukan hanya tempat hiburan malam semata, tapi juga hiburan para pejantan. WAduh...waduh.... Ngomongnya jadi gak enak nih. Yang jelas, Bahkan UU Pornografi udah turun. Tapi kok masih bisa tempat segedhe itu ada. Tapi terserah lah... Kan itu urusan pemerintah, hehehe.... Aku hanya membayangkan, gimana perasaan mereka yang terlibat di dalamnya, terutama para pelaku utamanya. Yang kumaksud para wanita yang selalu duduk di sofa depan wisma-wisma disana. Apa yang mereka rasakan, gimana perasaan mereka. Apa mereka terpaksa?



Tentang Penulis

.:: Just Be My Self ::.




Your Ad Here