Minggu, 25 Oktober 2009

"Kisahku dengan Bintang"

Malam itu bulan telah menampakkan wajahnya. Kulihat ribuan bintang bertahta diatas kertas hitam yang seolah tergantung tanpa tiang dan penyangga. Berdiri aku diatas batu yang ada ditengah bukit hijau di belakang rumahku. Kemudian kurentangkan tanganku dan aku berkata dan bertanya kepada satu bintang di langit.
"Wahai bintang, Apakah sebenarnya persahabatan itu?"
Bintang itu membuat sedikit gerakan. Seolah hidup, bintang itu berputar dan bergeser sedikit dari tempatnya berada. Kibasan ekornya yang berwarna jingga sungguh indah.

Tak lama kemudian bintang-bintang lain ikut bergerak, dan mulai berkumpul menjadi satu. Merah, Kuning, Hijau, Putih, Biru, gemerlap cahaya bintang memenuhi langit. Ekor panjang mereka seolah sengaja mereka kibaskan dengan penuh gejolak warna. Seperti kuas yang menyapu kanvas. Seolah lukisan yang tak ternilai. Sungguh indah, mereka berkumpul menjadi ribuan titik warna yang seolah sedang mengadakan suatu rapat besar.


Kutunggu jawaban itu tak pasti. Aku berharap mereka memberikan jawaban itu dengan jelas, sehingga aku pun bisa mengerti dengan jelas. Titik-titik warna itu kemudian pecah seperti kembang api yang meletup. warna hijau, merah, kuning, biru memenuhi langit sekali lagi. Tapi beberapa detik kemudian, cahaya itu mulai meredup. mulai hilang satu persatu mereka menjauh dari posisi dimana aku berdiri. Aku berlari mengejar mereka. Aku terus berlari menapakkan kakiku diatas rumput hijau lembab. Aku terus berlari, tapi aku bingung. Aku bingung harus kemana, aku berlari tanpa arah. Mereka menjauh menyebar dari posisiku. Seolah mereka jatuh entah kemana.
Aku pun jatuh duduk termenung. Tak terasa air mataku pun keluar dan jatuh.

Aku tak menyangka, bahkan bintang pun tak mau merespon pertanyaanku. Entah mengapa? Aku terus duduk termenung. Kumasukkan kedua kepalaku diantara kedua lututku. Kuterisak sendiri tanpa seorangpun tahu.
Lama aku terisak.
Dan kemudian, dari kejauhan kulihat bola biru bercahaya kecil seukuran bola Kasti. Dia melayang mendekatiku. Terus melayang, hingga dia berputar putar di atas kepalaku. Aku pun berdiri. Dia melayang terus mengelilingi tubuhku. Tapi dia pergi menjauh lagi. Menjauhiku, kukejar tapi tak bisa. Aku kembali putus asa. Kubalikkan tubuhku, lalu kuberjalan ke arah dimana aku tadi duduk.

Langkah pertama, kedua, ketiga, keempat, terus kutapaki langkahku dengan penuh putus asa. Tapi, tak beberapa lama kemudian, bintang biru itu kembali. Aku berbalik dan menoleh. Mataku terbelalak, betapa terkejutnya aku. Ribuan bintang penuh warna ada di sekelilingku. Sungguh indah. Mereka membawa partikel cahaya dengan warna berkilau. Aku berjalan mendekati mereka, mereka pun melayang mengelilingiku. Mereka seolah menciptakan sebuah tarian. Kudengar suara seperti ketukan kuku jari diatas meja yang berirama. Mereka bernyanyi dan berdendang. Yah meski sayang, aku tak mengerti nyanyian mereka. Mereka terus melayang. Partikel cahaya berwarna-warni terus bertebaran. Juga kelopak bunga mawar putih dan merah memadu dan saling bertebaran diatas tanah. Sungguh indah dan harum. Entah kapan dan dariman mereka mengambil kelopak bunga itu.

Cahaya biru, merah, kuning, hijau, putih, patikel itu terus mengeluarkan cahaya. Hingga bukit saat itu sungguh terang. Terang oleh warna-warna ajaib sang Bintang. Mulutku yang tadinya terus membeku karena keputusasaan. Sekarang terbuka lebar, penuh senyum. Kuterus tersenyum dan tertawa. Bahagia rasanya melihat kemilau cahaya bintang, dan harumnya kelopak mawar yang terus melayang dan tak pernah sekalipun mereka jatuh.

Namun kebahagiaanku ini kemudian sedikit kusingkirkan, karena aku teringat oleh tujuanku awal tadi. Aku teringat akan pertanyaanku tadi.

"Wahai bintang, lalu apa jawabannya..... Apa kalian mau menjawab pertanyaanku tadi?" Aku berkata dengan suara memohon.
Ribuan bintang itu tiba-tiba berhenti melayang, mereka diam. Sunyi terasa di sekelilingku. Mereka berhenti. Mereka hanya melayang diam. Cahaya mereka pun mulai meredup. Hatiku kembali resah, aku takut mereka meninggalkanku lagi. Tapi kemudian mereka dengan cepat melesat ke atas. ekor mereka terlihat semakin panjang dan indah. Mereka melesat kembali ke langit tinggi, dan semakin tinggi. kemudian cahaya mereka hilang tanpa bekas, dan sedetik kemudian, seperti tongkat sihir yang memercikkan cahaya, mereka bersinar sangat terang dan indah. Lebih terang dari semua cahaya bintang yang pernah aku lihat selama ini. Mereka kemudian berjajar dan membentuk sebuah barisan. Mereka secara rapi berbaris membentuk sebuah pola.
Lama aku terus melihat keajaiban ini. Awalnya aku tak mengerti pola apa itu. Kemudian semakin banyak bintang yang membentuk pola itu, aku mulai mengerti.

Dua pasang tangan yang memegang sebuah bentuk yang sayangnya aku masih belum jelas, karena terlalu rumit bagiku. Semakin banyak bintang berkumpul. Aku pun mula menerka bentuk apa itu, dan akhirnya terbentuklah bentuk itu.
Kini aku mengerti, bentuk yang mereka buat. Dua pasang tangan yang memegang sebuah bentuk hati berwarna merah menyala dengan inti hijau di tengahnya.
Tangan itu berwarna kuning emas bercampur warna putih berkilau. Terus menggenggam erat hati berwarna merah itu seolah takkan pernah melepasnya. Bibirku mulai terbuka, aku tertawa, tapi air mataku juga terus jatuh. Aku terus tertawa. Dan air mataku pun terus jatuh.
"Terima Kasih bintang, Terima Kasih. Kau sungguh makhluk Tuhan yang indah. Terima Kasih Bintang."
Kubentangkan tanganku, kemudian ku berteriak.....
"Akhirnya, aku tahu apa artinya. Ahhhhhh....."
Terus ku berteriak.....
Kemudian aku merebahkan tubuhku. Kupejamkan mataku, kemudian aku merasa cahaya bintang mulai menghilang dari pandanganku. Suara gemerisik nyanyian bintang itupun mulai sedikit demi sedikit hilang di telingaku.
Keesokan harinya, aku terbangun. 'Dimana aku?' Pikirku, karena yang kulihat sekarang adalah atap berwarna biru cerah dengan tempelan-tempelan abstrak yang sangat halus dan lembut berwarna putih. Padahal sebelumnya aku merasa melihat ribuan bintang menari. Tak lama kemudian, aku baru menyadari, ternyata yang kulihat sekarang adalah hamparan langit luas di atas bukit di belakang rumahku. Aku duduk dari posisi telentangku. 'apakah aku hanya bermimpi'. Tapi pikiranku ini ternyata salah, karena setelah kubuka genggaman tanganku, kulihat butiran partikel cahaya warna-warni masih menempel di tanganku. Aku tersenyum, dan sadar bahwa malam itu bukanlah mimpi. Segera aku bangun dari mimpiku. Aku berlari menuju rumahku, kencang, sangat kencang. Kudorong pintuku keras-keras.
"Apa yang terjadi, Nak?" Ibuku bertanya karena kaget melihatku.
Tapi aku hanya tersenyum kecil. Kunaiki tangga, lalu berbelok dan aku berhenti tepat didepan kamarku. Kubuka pintu kayu kamarku. Kuberhenti sebentar sambil mengatur nafasku. Kakiku kemudian melangkah pelan menuju sebuah meja kayu kecil rendah. Kupandangi sebuah frame foto berwarna putih merah dengan hiasan kucing kecil dibagian pojoknya. Kulihat bagian dalam frame itu, kuambil dan kupegang foto bagian dalamnya.
Kusentuh satu persatu gambar dalam foto itu. Kini kumerasa, merekalah yang harusnya kupercaya. Pada merekalah seharusnya kupercayakan hatiku. Ian, Inka, Didit, Unji, Laila, dan semuanya. Para sahabatku, disanalah seharusnya kutempatkan hatiku. Karena seperti itulah yang dipesankan oleh para bintang. Seperti itulah Persahabatan yang diartikan oleh bintang. Kepercayaan, kebersamaan, dan saling membagi perasaan masing-masing. Itulah sahabat. Itulah Arti sesunguhnya persahabatan.

1.232 komentar:
Write komentar



Tentang Penulis

.:: Just Be My Self ::.




Your Ad Here