Rabu, 23 September 2009

Beberapa Cerita - Hanya di Indonesia (Bagian I)

Wah cerita pertama datang 2 bulan lalu, saat aku diajak oleh temanku ke sebuah tempat di Surabaya. Sebenere aku yakin udah banyak orang tahu tempat ini. Yah gimana gak tahu, Tempat hiburan malam terbesar Asia Tenggara. Hahaha... Aneh, Indonesia sebagai negara dengan Penduduk muslim terbesar di dunia memiliki tempat hiburan malam terbesar. Waduh lucu yah..... Hahahaha..... "DOLLY", Dengar nama itu sih kayaknya biasa, padahal, bagi orang Surabaya, nama itu menjadi nama pujaan bagi yang senang pergi ke sana. Kalo dibilang resmi sih, emang kayaknya resmi, soalnya tak liat ada polisi, hansip, bahkan tentara. Aneh ya... Itukah yang seharusnya diamankan.

Padahal sudah menjadi rahasia umum, kalo tempat itu bukan hanya tempat hiburan malam semata, tapi juga hiburan para pejantan. WAduh...waduh.... Ngomongnya jadi gak enak nih. Yang jelas, Bahkan UU Pornografi udah turun. Tapi kok masih bisa tempat segedhe itu ada. Tapi terserah lah... Kan itu urusan pemerintah, hehehe.... Aku hanya membayangkan, gimana perasaan mereka yang terlibat di dalamnya, terutama para pelaku utamanya. Yang kumaksud para wanita yang selalu duduk di sofa depan wisma-wisma disana. Apa yang mereka rasakan, gimana perasaan mereka. Apa mereka terpaksa?

Dulu saat aku SMP, aku pernah membuat tugas tentang anak jalanan dan para orang malam di daerah Malang. Saat itu kebetulan aku mendapat tugas mewawancarai salah satu waria di daerah stasiun kota Malang. Untungnya aku punya kenalan waria disana. Dulu dia sahabatku, tapi dia menjauh dariku sejak dia memilih untuk merubah status gendernya. Dia menjauh dari semua orang yang pernah dekat dengan dia termasuk keluarga dan sahabatnya. Tapi alhamdulillah dia masih bisa kuhubungi dan aku tak perlu susah-susah mencari di stasiun.

Awalnya niatku aku pengen ngewawancara dia, tapi dianya gak mau, dan akhirnya aku diperkenalkan dengan seorang temannya yang juga seorang waria. Aku pun memulai wawancaraku. Yang pertama kuwawancara jelas nama dan alamat dimana dia tinggal. Lalu kumulai masuk ke dunia pribadinya. Dan betapa terkejutnya aku, ternyata dia telah mempunyai istri dan 2 anak. Aku pun bertanya, apakah istri dan anaknya tak tahu. Dia hanya menjawab "Lek bojoku yoh ngerti mas, tapi lek anakku yo ojok sampek eruh, saaken aku (Yah kalau istriku sih tahu mas, tapi kalau anakku ya jangan sampe tahu, kasian kalau mereka sampe tahu)."

Sebenarnya bapak ini punya pekerjaan utama. Dia adalah seorang tukang becak. Tapi dia mengaku tak cukup kalau hanya mengandalkan becaknya. Dia mengaku kesulitan mencari nafkah untuk biaya anaknya yang masih sekolah. Dia hanya tak tega kalau sampai anaknya putus sekolah. Dan dia juga tak tahu harus berbuat apa lagi. Saat aku berjalan pulang, aku terus memikirkan kasus bapak ini. Bagaimana tidak, seorang bapak harus menjadi waria karena memiliki tanggungan istri dan kedua anaknya. Entah bagaimana dia bisa menjalani kehidupan seperti itu. Memikirkannya saja aku sudah sulit. Mengingat cerita itu, saat aku melihat para wanita yang duduk di sofa wisma-wisma DOLLY, aku selalu membayangkan bapak itu. Aku terus bertanya, apakah mereka terpaksa melakukan itu? Yah itulah keadaan sekarang, karena terpaksa, orang berani melakukan apapun untuk hidup. Akupun juga tak bisa membayangkan jika aku jadi seperti mereka. Entahlah..... Hanya ALLAH yang tahu.....

203 komentar:
Write komentar



Tentang Penulis

.:: Just Be My Self ::.




Your Ad Here