Rabu, 20 Agustus 2008

Remaja dalam Kemerdekaan

Judulnya sih sok jurnalistik banget, padahal isinya sebenernya cuma pikiran penulis aja. Ehm sebelum aku bisa memahami kalimat diatas, aku memulainya dengan mengurainya satu-persatu kata-kata diatas. Kalimat diatas sebenarnya hanya terdiri dari 3 kata sederhana yang sudah sering kita dengar. REMAJA, DALAM, dan KEMERDEKAAN. Untuk kata dalam sementara kita kesampingkan karena saya rasa orang Indonesia yang pernah merasakan sekolah sudah tahu artinya.

Kata pertama adalah REMAJA. Apa sih remaja itu? Menurut WIKIPEDIA.COM Remaja adalah peralihan manusia dari anak - anak menuju dewasa. Tapi itu secara harfiah atau leksikal atau mendasarnya. Padahal sebenarnya arti kata Remaja memiliki banyak makna tergantung dari mana sudut pandang orang yang mengartikannya. Misalnya dari diri saya sendiri, saya mengartikan Remaja adalah suatu waktu bergairah, kalau orang Jawa bilang SEMEGHA. (Dibaca 'semego'). Remaja adalah saat dimana semua orang bisa mengekpresikan kekhayalan mimpi mereka dalam sebuah apresiasi ciptaan mereka sendiri. Entah itu berbentuk konkrit atau abstrak. Emang sih kadang cara peng-apresiasiannya sedikit melenceng. Tapi itu akan menjadi lebih menarik bila digabungkan dengan beberapa pikiran positif mereka yang sudah dibangun oleh orang tua sejak kecil. Mengingat saya sendiri adalah Remaja, saya juga merasa kadang keinginan saya untuk membuat, menciptakan, meraih sebuah mimpi sangat tinggi melebihi apapun. Padahal tak semua keinginan saya itu terpuji alias baik, dan malah seringkali mimpi saya tersebut lebih mengarah pada imajinasi daripada sebuah kenyataan yang Nihil kemungkinannya untuk terkabul. Pikiran Remaja sangat mudah terpengaruh oleh hal sekitar. Ini saya temukan saat saya menyadari bahwa dalam pikiran saya, saya ingin menjadi seorang Naruto. Hemmm bagi yang gak tahu Naruto, dia adalah tokoh kartun Anime dari Jepang yang sudah sangat populer. Saya membayangkan bisa memiliki keahlian kayak Naruto, yang dalam pikiran saya bisa mengabulkan semua keinginan saya. Ini menunjukkan kalau sebenarnya pikiran Remaja bisa lebih mudah dibentuk. Selama ini orang memberitahu saya bahwa memberikan pelajaran pada anak kecil akan membentuk pikiran mereka. Padahal tak sedikit orang yang dahulunya adalah anak kecil yang santun, tapi saat dewasa dia menjadi brutal. Kita liat aja di berita Teve. Tiap hari pasti ada aja pembunuhan, perampokan, dkk. Dan setahu saya semua perbuatan brutal ini digerakkan oleh pikiran sadar mereka. Saya tak percaya kalau ada orang ngomong bisa membunuh karena alasan bisikan setan atau segudang alasan takhayul lainnya. Kecuali penyakit Gila dan Kleptomania, semua perilaku ini sadar dilakukan pelakunya. Pembentuk pikiran Remaja menurut saya sangat berperan disini. Seperti Ibu saya yang tiada henti-hentinya memberi nasihat pada saya tentang perbedaan baik dan buruk. Selain Ibu, Bapak, Guru di sekolah, ponpes, dan di segala macam jenis tempat pendidikan juga merupakan pembentuk pikiran. Para atasan saya ini (begitu biasanya saya memanggil para orang tua saya ini) memiliki pengaruh terbesar dalam berhasilnya remaja nanti. Selain itu, faktor lingkunagn juga memiliki peringkat kedua setelah para atasan-atasan diatas. Lingkungan yang nyaman, aman, dan maju akan lebih bisa mengarahkan saya ke tujuan hidup yang lebih baik daripada Lingkungan yang sedikit meresahkan. Tapi sekali lagi, faktor ini berada dibawah para Atasan. Jadi sebisa mungkin seharusnya para Atasan ngawasin orang-orang seperti saya ketika berada dilingkungan masyarakat sebenarnya. Waduh panjang amat pikiranku ya... Wis kesimpulanku adalah Jrengjrengjreng... REMAJA itu memang peralihan. Dimana mereka mulai bisa membedakan baik dan buruk. REMAJA adalah jembatan bagi para anak dan orang tua. Remaja adalah Guru bagi anak, dan murid bagi orang tua. Tapi kadang kondisi ini terbalik karena dunia yang sudah EDAN. Dan yang terakhir REMAJA berpikir sesuai apa yang ATASAN dan lingkungan berikan pada pikiran mereka. Jadi kebrutalan para remaja tidak seratus persen dari hati mereka sendiri.



Kata kedua yang bisa didefinisikan adalah KEMERDEKAAN. Dan sekali lagi menurut WIKIPEDIA.COM adalah kondisi dimana sebuah benda memiliki penguasaan penuh atas segala dalam dirinya. Karena dalam hal ini yang saya maksud adalah yang barusan terjadi, yakni Kemerdekaan RI ke-63, jadi bisa diartikan kalau kemerdekaan adalah kondisi dimana bangsa Indonesia beserta seluruh yang berada di dalamnya termasuk darat, air, dan udara, serta masyarakatnya memiliki penguasaan penuh melalui wakil rakyat untuk mengatur secara penuh tanpa ada intervensi dari bangsa lain. Dan sekali lagi itu menurut harfiah kata. Sedangkan bagi saya kemerdekaan adalah kebebasan yang tetap mengindahkan nourma berlaku. Waduh jadi inget Bu ELita waktu nerangin PKN. Kebebasan berapresiasi, mengekspresikan diri kita sesuai gaya kita namun tetap dalam nourma yang berlaku. Kebebasan bersuara, mengaspirasikan ide kita untuk kemudian ditinjau ulang melalui sebuah musyawarah. Tapi bagiku sekarang apa arti kemerdekaan tak penting. Hari ini aku baru aja baca koran, kalau di purwokerto peringatan HUT RI pake tawuran. Emang ada tuh adatnya. Sejak kapan? Itukah apresiasi? Jelas bukan. Apresiasi bukan merugikan, melainkan menguntungkan. Tidak hanya satu pihak, tapi semua pihak. Lalu, di sebuah kampung di Jawa Timur, perayaan HUT RI dirayakan dengan mabuk-mabukan. Itukah Apresiasi, Ya jelas bukan. "Wong mendem kok jarene Apik. (Orang Mabuk Alkohol kok katanya Baik)" kata ibuku ngomel di telpon waktu cerita sama aku. Yah itulah kami anak remaja sekarang. Tapi gak semuanya lho. Kemarin waktu aku jalan-jalan di SOLO GRAND MALL,aku liat ada beberapa orang yang bisa dibilang 'REMAJA' mempertontonkan beberapa atraksi lantai yang kueeeren banget. Gila sampe semua orang kagum. Nah itu tuh apresiasi. Seperti cita-cita pejuang kita dahulu yang berjuang meraih Kemerdekaan dengan berperang. Tapi bukan berarti kita harus berperang juga. Kita tinggal meneruskan dengan beberapa hal positif untuk meneruskan perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan.


       
Jadi kalau sekarang kita gabungkan kata REMAJA dengan KEMERDEKAAN yang diberi kata penghubung 'DALAM', yang akan menjadi REMAJA DALAM KEMERDEKAAN, menurutku setidaknya akan memiliki arti seperti ini. Kemerdekaan bagi Remaja sebenarnya sangat mendukung sifat remaja yang senang berapresiasi. Mulai dari ilmu pengetahuan, hingga seni. Gak ada kata katrok untuk berapresiasi secara positif. Sekarang kita para remaja tinggal mikir. Daripada uang dibuat untuk beli alkohol, mending buat beli gitar, keyboard, atau buku pengetahuan. Yah minimal Koran, atau majalah umum. Karena dengan begitu pikiran kita akan menjadi lebih kreatif. Tanpa mengandalkan ajaran para Atasan kita tadi, maka kita sudah bisa mem-positif-kan pikiran kita secara alami. Tanpa perlu mencari lingkungan, kita sudah bisa membuat lingkungan sendiri. jika ini bisa dimulai sekarang, entah kapan tapi aku yakin Lingkungan ini akan semakin maju, dan sebagai akibatnya motor penggerak Indonesia yang tidak lain adalah para remaja akan lebih memajukan bangsanya meski tidak harus menjadi pemerintahan. Karena sekarang di mata publik pemerintahan telah tercoreng dengan huruf X merah besar. Kita berdoa semoga dengan berubahnya para remaja, maka para penghuni kursi empuk diatas sana bisa berguru pada kita. Tapi sebelum itu, kita juga berdoa semoga pemimpin kita tidak sombong-sombong dan mau melihat kebawah. Wis pokoknya para Remaja harus berperan aktif dalam kegiatan mengisi Kemerdekaan. Kalau ada yang tidak mau ikut, diajak bareng-bareng untuk kumpul. Kalau ada yang mencela, kita tunjukkan kalau kegiatan ini bukanlah hal yang jelek. Kalau ada yang merusak acara, kita "BUNUH BERSAMA-SAMA...". Ho..ho..ho.. salah, maksudnya diomongin aja "Kalau gak mau ngikut gak usah iri donk. Kalau iri ikut aja gak papa kok." Kalau masih merusak saja, lebih baik kita kerahkan seluruh masyarakat, lalu suruh berjaga deh di acara itu. Kan si Perusak gak bakalan lagi berani merusak.
Intinya Perjuangan para pejuang Kemerdekaan hanya bisa diteruskan para Remaja penerus bangsa. Dan gak akan bisa diterusin siapapun lagi. Gila apa, masa yang nerusin orang tua, waduh sadar donk, pasti jadul amat, kalau yang nerusin adek bayi emang bisa apa?

34 komentar:
Write komentar



Tentang Penulis

.:: Just Be My Self ::.




Your Ad Here